TIMES JAZIRAH, JAKARTA – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang kian masif tidak hanya membawa peluang kreativitas. Namun juga memunculkan risiko pelanggaran etika, terutama dalam konten visual.
Menyadari hal tersebut, Kontes AI Indonesia 2026 yang digagas TIMES Indonesia bersama KITA AI secara tegas menetapkan norma kesopanan dan adat ketimuran sebagai fondasi utama kompetisi.
Aturan etika busana, larangan pornografi, serta pembatasan visual sensual dituangkan secara rinci dalam kerangka kontes.
Karenanya, setiap karya AI yang dilombakan wajib menghormati nilai kesantunan, baik dalam kategori Miss Avatar AI Indonesia maupun Miss Avatar Muslimah 2026.
Peneliti AI dan Co-Founder KITA AI, Theofany Aulia S.Ikom., M.Cs.AI, menilai langkah ini sebagai bentuk kesadaran bahwa AI tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya.
“AI bukan ruang bebas nilai. Ketika ia masuk ke ruang publik, maka norma sosial harus ikut hadir. Kontes AI Indonesia dengan sadar menempatkan adat ketimuran sebagai pagar etik,” ujar Theofany.
Dalam aturan Kontes AI Indonesia, panitia secara tegas melarang visual yang mengandung unsur pornografi, ketelanjangan, transparansi pada area vital, hingga pose sensual yang menjurus eksploitasi tubuh. Aturan ini berlaku untuk seluruh kategori, tanpa kompromi.
Menurut Theofany, pembatasan ini justru menjadi tantangan kreatif yang sehat. "Kreativitas tidak identik dengan vulgaritas. Justru dengan batas etika, kreator dipaksa berpikir lebih dalam soal estetika, narasi, dan makna,” jelasnya.
Sementara untuk kategori Miss Avatar Muslimah, standar etika diperketat dengan kewajiban hijab yang menutup rambut dan leher, busana longgar, serta larangan visual yang membentuk lekuk tubuh secara sensual.
AI Governance Berbasis Budaya Timur
CTO TIMES Indonesia National Network sekaligus Co-Founder KITA AI, Bagus Satriawan, menegaskan bahwa aturan etika ini bukan sekadar teknis lomba, melainkan eksperimen awal membangun model AI governance berbasis budaya Timur.
“Selama ini diskursus AI governance didominasi perspektif Barat, seperti privasi, keamanan data, dan regulasi teknis. Indonesia menawarkan dimensi tambahan, yaitu budaya dan kesopanan,” kata Bagus.
Menurutnya, pendekatan ini penting agar AI tidak menjadi sumber degradasi nilai di masyarakat, terutama di ruang digital yang sangat cepat memengaruhi persepsi publik.
“Kalau sejak awal AI dibiasakan taat norma, maka ia akan tumbuh sebagai teknologi yang diterima masyarakat, bukan ditakuti,” tambahnya.
Rujukan Etika AI Berbasis Budaya
Di tengah tren global AI visual yang kerap mengeksploitasi tubuh perempuan demi klik dan popularitas, Kontes AI Indonesia hadir sebagai kontra-narasi. Norma kesopanan diposisikan bukan sebagai penghambat inovasi, tetapi sebagai identitas pembeda.
Bagus menilai, pendekatan ini justru memberi nilai tambah di tingkat internasional.
“Dunia sedang mencari model AI yang beretika. Budaya Timur, termasuk Indonesia, punya modal besar untuk itu,” ujarnya.
Melalui Kontes AI Indonesia, Indonesia tidak hanya menggelar kompetisi kreatif, tetapi juga mengirim pesan bahwa teknologi tinggi bisa berjalan selaras dengan nilai lokal. Etika busana, larangan pornografi, dan penghormatan adat ketimuran menjadi contoh konkret bagaimana budaya dapat diterjemahkan ke dalam aturan AI.
Theofany menyebut langkah ini sebagai investasi jangka panjang.
“Kalau kita ingin AI yang beradab, maka nilai-nilai itu harus ditanamkan sejak sekarang, bahkan dari level lomba kreatif,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, Kontes AI Indonesia berpotensi menjadi rujukan awal pengembangan AI governance berbasis budaya Timur, sebuah model yang menempatkan teknologi tidak di atas nilai, melainkan berjalan bersama nilai kemanusiaan. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Ketika AI Wajib Taat Adat Ketimuran, Kontes AI Indonesia Tegaskan Norma Kesopanan
| Writer | : Theofany Aulia (DJ-999) |
| Editor | : Deasy Mayasari |